You are here
Home > Berita > SATPOL PP KABUPATEN BLITAR MELAKSANAKAN PENGAMANAN UPACARA SIRAMAN GONG KYAI PRADAH

SATPOL PP KABUPATEN BLITAR MELAKSANAKAN PENGAMANAN UPACARA SIRAMAN GONG KYAI PRADAH

IMG-20171202-WA0000

Blitar – Sabtu, 2 Desember 2017  Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Blitar melaksanakan giat pengamanan Upacara Siraman Gong Kyai Pradah. Upacara siraman Kyai Pradah dimaksudkan sebagai sarana memohon berkah kepada kekuatan gaib atau roh leluhur yang ada di dalam Kyai Pradah. Mereka percaya bahwa air bekas siraman Kyai Pradah dapat membuat awet muda dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Di samping itu saat upacara merupakan saat paling baik untuk membeli alat-alat pertanian karena dengan memakai alat yang dibeli saat upacara akan mendatangkan kesuburan dan tanaman akan terbebas dari hama. Demikian pula bagi para pedagang. Mereka banyak yang datang dari luar kota Lodoyo untuk ngalap berkah. Mereka percaya meskipun pada saat upacara, dagangan tidak banyak terjual, tetapi setelah upacara berakhir, dagangan akan mudah terjual. Pada musim kemarau, siraman ini juga sebagai sarana memohon turun hujan.

Untuk masa sekarang upacara lebih dimaksudkan sebagai usaha melestarikan budaya bangsa, dimana upacara siraman Kyai Pradah merupakan naluri masyarakat Lodoyo turun-temurun yang tidak dapat dihapus begitu saja karena sudah mendarah daging.

Upacara siraman Kyai Pradah dilaksanakan dua kali setahun, yaitu setiap tanggal 12 Robiul Awal bertepatan dengan hari Maulud Nabi Muhammad dan tanggal 1 Syawal bertepatan dengan hari Raya Idul Fitri. Khusus penyelenggaraan tanggal 12 Robiul Awal upacara diadakan secara besar-besaran, sedangkan upacara yang diadakan pada tanggal 1 Syawal dilaksanakan secara sederhana oleh petugas yang berkepentingan saja.

Upacara siraman berlangsung dua hari. Sehari menjelang acara puncak kurang lebih pukul 14.00 WIB dimulailah acara menghias tempat upacara, dilanjutkan dengan pemotongan kambing sesaji, serta pembuatan sesaji. Sedangkan pembentukan panitia sudah diadakan lima belas hari sebelumnya.

Masih dalam satu rangkaian waktu, pukul 19.00 WIB dilaksanakan tirakatan sampai pukul 04.00 WIB keesokan harinya. Namun, ditengah acara tirakatan yaitu pukul 24.00 WIB acara dihentikan sejenak untuk melaksanakan selamatan.

Pagi harinya pukul 07.30 WIB acara dilanjutkan dengan berziarah ke Dukuh Dadapan. Barulah pada pukul 11.00 WIB puncak acara siraman dilaksanakan. Seusai siraman dilanjutkan dengan selamatan dan hiburan. Hiburan berakhir bersama selesainya pagelaran ringgit purwo yang diselenggarakan pada malam hari tanggal 12 Rabiul Awal.

Sebagai penutup upacara siraman Kyai Pradah setelah lima hari diadakan selamatan sepasaran serta selamatan selapanan pada hari ke-35 dari saat siraman.
Pelaksanaan upacara siraman Kyai Pradah dipusatkan di alun-alun Kawedanan Lodoyo kecuali ziarah. Di lokasi tersebut perlengkapan upacara telah dipersiapkan secara permanen, yaitu: panggung siraman setinggi tiga meter dengan luas kurang lebih enam belas meter persegi, dan sanggar penyimpanan, serta pendopo kawedanan.

Sanggar penyimpanan adalah tempat penyimpanan Kyai Pradah beserta kenong dan wayang krucil, tempat dimana para pengunjung menyampaikan hajadnya pada hari-hari biasa. Pada saat upacara, sanggar penyimpanan digunakan untuk tirakatan dan selamatan.

Adapun panggung siraman adalah tempat untuk melaksanakan acara puncak yaitu siraman gong Kyai Pradah; pendopo kawedanan pada saat upacara digunakan sebagai tempat duduk para undangan, acara selamatan, dan tempat hiburan. Ziarah dilakukan di patilasan yang terletak di Dukuh Dadapan, Kecamatan Sutojayan.

Penyelenggaraan upacara siraman pada mulanya dilakukan secara spontan oleh warga masyarakat dengan dikoordinasi para kepala desa di Kecamatan Sutojayan. Namun sekarang penyelenggaraan upacara dikoordinasi oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Blitar.    Tokoh-tokoh yang berperan sebagai penyelenggara teknis upacara adalah sebagai berikut.
a. Pejabat Pemerintah. Pada upacara yang dilaksanakan pada tanggal 12 Robiul Awal sebagai penanggung jawab formal pelaksana upacara adalah Bupati Blitar, sedangkan pada upacara 1 Syawal tokoh yang berperan adalah Pembantu Bupati Lodoyo.
b. Juru kunci, yaitu juru kunci petilasan dan juru kunci Kyai Pradah.
c. Para dhalang yang bertempat tinggal di Lodoyo, bertugas membawa kenong dan wayang krucil.
d. Petugas pembawa panji-panji Kawedanan Lodoyo dan payung
e. Pemain kesenian tradisional.
f. Pemasak sesaji.

Sehari sebelum saat siraman, yaitu tanggal 11 Rabiul Awal pukul 14.00 WIB, sanggar penyimpanan, panggung siraman, serta tempat penyembelihan kambing sesaji dihias dengan janur sehingga suasana terasa lebih meriah dan bernuansakan kemagisreligiusan. Hanya, khusus panggung siraman selain dihias dengan janur juga dipasang untaian daun beringin, andong, puring, serta daun langsuran.

Setelah acara menghias selesai dilanjutkan dengan pemotongan kambing sesaji. Kambing sesaji ini hanya satu ekor. Itupun hanya diambil kepala dan jerohannya saja. Kepala dan jerohan kemudian dibungkus dengan kain mori untuk dijadikan sesaji ziarah.

Selesai pemotongan kambing sesaji dilanjutkan pembuatan sesaji. Pembuatan sesaji dilakukan oleh para ibu yang sudah tidak menstruasi, dengan dikoordinasi juru kunci Kyai Pradah. Sesaji dalam sebuah upacara memegang peranan penting karena kelengkapan sesaji menentukan keberhasilan upacara religius. Sesaji yang kurang lengkap dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Sesaji yang dipersiapkan dalam upacara ini adalah sesaji untuk sanggar penyimpanan, sesaji selamatan, sesaji ziarah, dan sesaji siraman.

Tanggal 11 Rabiul Awal kurang lebih pukul 19.00 WIB, di halaman sanggar penyimpanan diadakan malam tirakatan. Di malam tirakatan inilah para pengunjung menyampaikan hajadnya melalui juru kunci Kyai Pradah. Setelah hajad disampaikan, mereka yang berhajad diambilkan bunga telon yang ditaburkan di atas Kyai Pradah. Bunga tersebut oleh yang berhajad dibawa pulang, disimpan sebagai jimat.

Malam tirakatan diisi dengan berjanjen yaitu pembacaan puji-pujian yang berisi doa terhadap Tuhan diiringi instrumen jedhoran. Malam tirakatan banyak diikuti pengunjung yang sengaja datang bertirakat, mengunjungi pasar malam, atau mereka yang berusaha mencari tempat strategis untuk saat puncak acaranya. Tengah malam pukul 24.00 WIB berjanjen dihentikan sebentar untuk melakukan selamatan. Selamatan dipimpin oleh juru kunci Kyai Pradah. Sesaji selamatan adalah berupa nasi gurih dengan lauk ingkung yang disebut sekul suci ulam sari atau nasi girih iwak lado. Sesaji selamatan ini selain disediakan oleh penyelenggara, banyak pula dibawa oleh pengunjung yang berhajad. Setelah diujubi, sesaji tersebut dimakan bersama-sama. Selesai selamatan, tirakatan dilanjutkan lagi sampai keesokan harinya kurang lebih pukul 04.00 WIB.

Keesokan harinya setelah tirakatan berakhir, sebagian pengunjung ada yang pulang untuk sholat subuh. Banyak juga pengunjung yang tetap tinggal di tempat menanti acara berikutnya, berziarah ke petilasan di dukuh Dadapan.

Pukul 07.30 WIB tanggal 12 Rabiul Awal, pintu sanggar penyimpanan dibuka. Payung, pedupaan, sesaji ziarah dikeluarkan untuk dibawa ke petilasan. Sesaji yang berupa kepala kambing dan jerohan digendong oleh juru kunci dengan dipayungi oleh petugas diiringi barisan pengiring menuju ke petilasan. Mereka adalah rombongan kesenian tradisional kuda lumping Dadak Merak, kesenian Jedhoran, para dhalang, para kepala desa para perabot desa seluruh Kawedanan Lodoyo, dan sebagian besar pengunjung serta emban ceti yang membantu membawa sesaji ziarah lainnya.

Jarak dari alun-alun menuju petilasan kurang lebih satu kilometer. Petilasan ini berupa bangunan-bangunan permanen berbentuk cungkup (menyerupai rumah berukuran kecil dengan luas kurang lebih tiga meter persegi). Sesampainya di petilasan, sesaji diberikan kepada juru kunci petilasan. Sesaji yang berupa kepala dan jerohan tadi kemudian ditanam oleh juru kunci Kyai Pradah serta ditaburi dengan bunga tabur. Sesaji yang ditanam di petilasan itu dimaksudkan sebagai tumbal, berkaitan dengan hilangnya Kyai Pradah pada tahun 1907.

Gong Kyai Pradah dicuri oleh seseorang yang sedang terganggu jiwanya. Orang tersebut bernama Mukimin. Menurut Mukimin, ia merasa diperintah memindahkan tempat penyimpanan Kyai Pradah karena sanggar penyimpanannya terancam bau yang ditimbulkan oleh asap pembakaran beribu-ribu ekor tikus yang ditangkap penduduk. Setelah Kyai Pradah diambil kemudian dimandikan di sungai Brantas. Bupati Blitar dilapori tentang hilangnya kyai Pradah segera memerintahkan beratus-ratus petugas untuk mencarinya. Tepat pukul 11.00 WIB, Kyai Pradah ditemukan. Mukiminpun ditangkap. Selanjutnya, saat ditemukannya kembali Kyai Pradah ditetapkan sebagai saat siraman, sedangkan dukuh Dadapan sebagai tempat ditemukannya kembali Kyai Pradah dijadikan sebagai petilasannya.

Seusai penanaman, barisan kembali ke alun-alun dengan posisi seperti ketika berangkat menuju petilasan. Tepat pukul 11.00 WIB siraman Kyai Pradah dimulai.

IMG-20171202-WA0002Bapak Pembantu Bupati, Bapak Camat Sutojayan, juru kunci Kyai Pradah dari halaman pendopo Pembantu Bupati berjalan menuju sanggar penyimpanan bersiap-siap membawa Kyai Pradah yang akan disirami. Barisan berjalan mengelilingi alun-alun Lodoyo dengan urut-urutan sebagai berikut. Paling depan dalam barisan tersebut adalah kesenian jaranan Dadak Merak, menyusul kemudian rombongan instrumen jedhoran, tim pembawa panji-panji Pembantu Bupati Lodoyo, pembawa padupaan, juru kunci Kyai Pradah yang menggendong Kyai Pradah di atas dadanya dengan dipayungi dua orang petugas pembawa payung, para dhalang serta emban ceti, serta paling ujung barisan adalah rombongan kesenian tradisional lainnya,

Setelah barisan sampai di depan pendopo, kemudian Bapak Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Blitar yang telah menunggu di depan pendopo menyusup ke dalam iringan barisan menuju panggung siraman.

Sesampainya di panggung siraman, Kyai Pradah digantungkan pada tempat yang telah disiapkan di tengah-tengah panggung. Di bawah gantungan tersebut diletakkan bak air untuk menampung air bekas siraman. Kain pembungkus pun dilepaskan.

Siraman dimulai dengan pembacaan riwayat Kyai Pradah oleh Bapak Bupati yang diwakilkan pada salah satu petugas. Pembacaan dilakukan dengan mikrofon sehingga para pengunjung mendengar dengan jelas.

Selesai pembacaan riwayat dimulailah puncak acara siraman. Siraman pertama kali dilakukan oleh Bapak Bupati, dilanjutkan Bapak Pembantu Bupati, pejabat Muspika, juru kunci dan para dhalang. Kyai Pradah kemudian digosok-gosok dengan kembang setaman agar hilang karatarinya. Kembang setaman kemudian dipercik-percikkan ketujuh tempayan yang telah diisi air.

Setelah Kyai Pradah selesai disirami, maka Bapak Bupati segera mengguyurkan air yang ditempayam ke para pengunjung yang berdesak-desakan di bawah panggung siraman sampai habis. Demikian halnya yang di atas panggung pun saling berebut mendapatkan air bekas siraman.

Selain Kyai Pradah, di dalam upacara siraman dimandikan pula empat buah wayang krucil dan dua buah kenong. Selesai disirami, Kyai Pradah beserta kenong dan wayang krucil dikeringkan dengan lap khusus.

Sampailah saat yang dinanti-nantikan, Kyai Pradah pun ditabuh oleh Bapak Bupati diperdengarkan kepada pengunjung. Setiap kali menabuh, Bapak Bupati bertanya: “Kados pundi suantenipun ?” dijawab para pengunjung “sae”, yang dalam bahasa Indonesianya : “Bagaimana suaranya?” dijawab “bagus” . Demikian itu dilakukan tuju kali berturut-turut. Menurut kepercayaan, apabila bunyi Kyai Pradah mengaung-ngaung bergema ke segala penjuru, dianggap sebagai pertanda bahwa upacara berjalan sempurna. Masyarakat boleh berharap berkah akan melimpah di dalam kehidupan mereka, sehingga dapat tenang hidupnya. Namun, apabila terdengar bunyinya tersendat-sendat, maka masyarakat menjadi tidak tenteram, karena akan datang saat sial atau keadaan yang tidak menyenangkan kehidupan mereka.

Sesudah Kyai Pradah diperdengarkan suaranya kemudian diberi boreh. Demikian juga wayang krucil dan kenongnya. Kyai Pradah pun dibungkus kembali dengan kain mori putih yang masih baru. Dengan digendong juru kunci dan iring-iringan seperti ketika menuju panggung siraman, Kyai Pradah dibawa kembali menuju sanggar penyimpanan. Tepat di depan pendopo, Bapak Bupati keluar dari barisan. Kyai Pradah disemayamkan kembali dengan posisi mendatar. Demikian pula wayang krucil dan kenong dimasukan ke dalam tempatnya semula. Kyai Pradah kemudian ditaburi dengan bunga tabur dan pintu sanggar penyimpan ditutup kembali.

Kyai Pradah disemayamkan, diadakan lagi selamatan sebagai ungkapan syukur karena pacara telah berjalan dengan lancar. Seperti asalnya pada selamatan tirakatan, pada selamatan kali inipun para pengunjung berusaha mendapat sesaji untuk dijadikan jimat atau obat jika ada anggota keluarganya yang sakit.

Upacara Siraman Kyai Pradah diakhiri dengan hiburan berupa tari gambyong, tari tayub, dan ringgit purwo pada malam harinya. Hiburan ini tidak ada batasan waktunya, hanya mengingat penyelenggara sebagian besar bekerja di instansi pemerintah, maka hiburan dibatasi waktunya. Meskipun begitu, para pengunjung tidak berkecil hati. Mereka tetap menunggu dimulainya hiburan ringgit purwo yang berakhir pada keesokan harinya.

Dengan berakhirnya acara hiburan maka berakhir pulalah rangkaian upacara siraman Kyai Pradah, walaupun sebenarnya masih ada acara selanjutnya, yaitu selamatan selapanan dan selamatan sepasaran yang dilakukan secara sederhana dan terbatas pesertanya.

 

 

 

Top